Pengangkatan K.H. Hendra Zainuddin Sebagai Mursyid Toriqoh Oleh K.H. Achmad Chalwani
Live Video



Kontak Person:
Ust. Halimi: 081278300119
Ust. Ahmadi Nejad: 082337881513
August 2018
S M T W T F S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Counter Visitor

Total Visitor todays: 26
Total Visitor yesterdays: 41
Total Visitor bulan ini: 453
Visitors Online: 1
Total Visitor: 120200

[psc_print_post_grid]

Oleh: H. Hendra Zainuddin. S.Ag, M.Pd.I
(Penulis Ketua PW Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Sumsel)

Mukaddimah
Seiring dengan dinamika umat Islam Indonesia, memasuki era tahun 1970-an, pesantren mengalami perubahan signifikan. Pesantren mengalami perkembangan kuantitas yang sangat menakjubkan, baik di wilayah pedesaan (rural), pinggiran kota (sub urban) maupun perkotaan (urban). Karena itu, tidak berlebihan bila Azyumardi Azra (1997) mengatakan pesantren mengalami ekspansi yang semula hanya rural based institution, kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan urban.

Pada awalnya memang pesantren bersikap “enggan dan rikuh” menerima modernisasi. Namun secara gradual pesantren juga melakukan adaptasi, akomodasi dan konsesi untuk kemudian menemukan pola yang dipandangnya cukup tepat guna menghadapi modernisasi yang berdampak luas. Modernisasi pesantren, baik berkaitan dengan sistem pendidikan maupun program sosialnya, pada dasarnya didorong oleh keinginan untuk menyahuti kebutuhan masyarakat. Hal ini inherent dengan sejarah berdirinya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam indigeneous muncul dari pengalaman sosiologis masyarakat.

Di Sumatera Selatan saat ini pondok pesantren berjumlah sekitar + 349  pondok pesantren telah tampil sebagai salah satu lembaga pendidikan alternatif yang menawarkan berbagai bentuk pelayanan mulai dari pelayanan pendidikan dan dakwah sampai kepada peran-peran sosial yang lebih luas. Dengan demikian, perkembangan lembaga pendidikan Islam pesantren di Sumatera Selatan relatif cukup menggembirakan dan sangat potensial untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Pesantren di daerah ini telah memainkan peranan signifikan sebagai penyebar dan sekaligus memproduk ulama-ulama Islam. Selain itu, pesantren juga telah memelihara kontinuitas budaya lokal dan media transmisi ilmu-ilmu keislaman pada masyarakat lokal.

Walaupun potensi pondok pesantren di Sumatera Selatan relatif menggembirakan, namun sampai saat ini masih ada pondok pesantren yang belum menerapkan pengorganisasian dan sistem sesuai dengan standard manajemen pondok pesantren. Makalah ini secara berturut-turut  akan membahas hakikat dan unsur-unsur manajemen serta proses dan aspek-aspek pengorganisasian.

Download File



Tenaga Pendidik

JAM BUKA PERPUSTAKAAN
Perpustakaan :
Senin - Kamis
08.00-16.00
Sabtu
08.00-16.00