Pengangkatan K.H. Hendra Zainuddin Sebagai Mursyid Toriqoh Oleh K.H. Achmad Chalwani
Live Video



Kontak Person:
Ust. Halimi: 081278300119
Ust. Ahmadi Nejad: 082337881513
August 2018
S M T W T F S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Counter Visitor

Total Visitor todays: 18
Total Visitor yesterdays: 27
Total Visitor bulan ini: 316
Visitors Online: 1
Total Visitor: 120063

[psc_print_post_grid]

REFLEKSI MEMPERINGATI HARI IBU KE-72 TAHUN:
SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU

H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I
(Wakil Ketua PW NU Sumsel)

Pada tanggal 22 Desember 2010 ini kita bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu yang ke-72 tahun. Bila dilihat dari persepktif sejarah, peringatan Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Kemudian Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum ibu dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, pada peringatan ke-25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.
Satu momen penting bagi para ibu adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari. Namun pertanyaannya, apakah peringatan Hari Ibu hanya terbatas pada kegiatan seremonial semata. Tentu saja tidak. Peringatan Hari Ibu mestinya dimaknai secara komprehensif dalam perspektif yang lebih luas dengan terus memperjuangkan hak yang sama dan sederajat dengan kaum laki-laki. Artinya, dengan peringatan Hari Ibu merupakan ajang untuk merefleksi kaum Hawa bahwa peran kaum perempuan saat ini sudah jauh lebih luas. Peran perempuan saat ini tidak semata pada ranah domestik, tetapi juga sudah memasuki ranah publik.

Peran Ibu di ranah domestik dan publik
Peran dan kedudukan seorang ibu, baik pada ranah domestik maupun publik, sesungguhnya bukan suatu yang aneh dalam perspektif ajaran Islam. Sejak awal, Nabi Muhammad SAW sudah menempatkan kaum ibu pada posisi yang mulia. Betapa tidak, dalam sebuah hadits, diceritakan suatu kali datanglah seseorang kepada Rasulullah SAW, dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya hormati dan patuhi sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ayahmu.”

Dari hadits di atas, kita dapat lihat bagaimana Islam sebenarnya menempatkan wanita di posisi yang teramat tinggi dan mulia. Sayangnya, akhir-akhir ini penghargaan dan penilaian sebagian masyarakat terhadap wanita mulai bergeser. Misalnya saja, wanita hanya ditempatkan sebagai objek untuk hal-hal negatif. Perlu disadari, pergeseran nilai wanita merupakan awal dari pendegradasian posisi seorang ibu. Apabila seorang wanita sudah diposisikan sebagai objek dan dipandang dengan tidak terhormat dalam suatu masyarakat, hal ini pertanda terjadinya degradasi moral suatu masyarakat. Bagaimanapun juga, seorang wanita, fitrahnya akan menjadi seorang ibu. Tidak menghormati wanita, besar kemungkinannya tidak akan menghormati ibu.

Pergeseran pandangan lainnya adalah penghargaan masyarakat kepada wanita yang mencurahkan waktunya untuk mengasuh anak-anaknya. Biasanya, wanita yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, disebut tidak bekerja. Sedangkan bila ingin disebut bekerja, wanita harus pergi ke kantor. Secara tidak langsung, pandangan ini merendahkan wanita yang berada di rumah. Padahal sebenarnya dia juga bekerja. Hanya saja penghargaan kerja di dalam rumah berbeda dengan bekerja di kantor.

Sebaliknya, bukan berarti bekerja di luar rumah itu buruk. Ada yang berpendapat, tidak ada salahnya bekerja di luar jika memang dimaksudkan untuk hal-hal yang baik. Tetapi pandangan yang beredar umum di masyarakat adalah apabila seorang wanita hanya tinggal di rumah membesarkan anak, dianggap tidak bekerja. Pandangan ini harus dikoreksi. Bagaimanapun juga, ibu yang bekerja di rumah, jika diukur dengan materi, penghasilannya juga besar, bahkan sangat besar. Karena anak yang berasal dari didikan seorang ibu, akan berbeda dengan anak yang tidak dididik langsung oleh ibunya. Dan kualitas itu mahal sekali harganya, bahkan tak ternilai.

Masih berkaitan dengan wanita dan karier. Ada anggapan bahwa, wanita memiliki hak dan kebebasan untuk menampilkan diri, dan memilih karier dan karya. Jadi hal tersebut tidak boleh dihalang-halangi dan bisa melanggar hak asasi manusia apabila menghalangi kebebasan wanita. Pendapat seperti itu memang ada. Hanya perlu disadari, bebas tidak berarti bebas sebebas-bebasnya. Bagaimanapun juga, kebebasan itu membutuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran alami terhadap posisi tiap-tiap individu.

Kedua contoh sederhana di atas merupakan bentuk dari sikap merendahkan nilai mulia dari tugas seorang wanita yang nantinya akan menjadi seorang ibu. Implikasinya, anak juga akan menganggap rendah pengorbanan seorang ibu karena opini yang berkembang di masyarakat, yaitu pandangan tentang seorang ibu yang sekedar mengurus anak di rumah dianggap tidak bekerja.

Pandangan-pandangan ini kemungkinan dibentuk oleh budaya-budaya lain yang sebenarnya tidak cocok dengan nilai-nilai yang kita anut. Budaya-budaya tersebut seolah membawa hal-hal yang membangkitkan antusiasme karena menawarkan kebebasan dari kungkungan nilai-nilai yang dianggap mengikat pada masa kini. Padahal, bisa jadi sebenarnya hal-hal yang mengikat dan bertahan lama dalam sejarah itu, ternyata memiliki nilai positif juga.
Karena itulah, perlu kita suarakan tanpa kenal lelah bahwa kemuliaan dan harkat dakwah kita pada dasarnya adalah kemuliaan dan harkat seorang ibu. Oleh karena itu, pelecehan harkat dan kemuliaan seorang wanita, berarti juga telah melecehkan harkat dan kemuliaan seorang ibu.

Wanita berhak mengenyam pendidikan setinggi-tingginya karena dia bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya nanti. Semakin hebat pendidikan seorang wanita, semakin tangguh pula generasi masa depan yang dididiknya.

Surga di bawah telapak kaki Ibu
Dalam sebuah hadits pernah diungkapkan “Surga terletak di bawah kaki ibu”. Ajaran ini mengandung dua pengertian. Pertama, ibu berperan penting dalam menentukan perjalanan hidup anak-anaknya kelak. Ibu bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada putra-putrinya supaya mereka nantinya berhak kembali ke tempat asal-usulnya, Surga. Ya, seorang anak akan bisa masuk surga atau neraka, ditentukan oleh seorang ibu. Inilah peran penting yang diemban seorang ibu dalam proses pendidikan generasi yang akan datang. Pengertian kedua, ukuran seseorang agar selamat dunia dan akhirat serta berhak masuk surga tergantung bagaimana dia mengabdi kepada ibunya.

Pengertian pertama tentang tanggung jawab besar ibu untuk mendidik anak-anaknya bisa dibilang tidak perlu ditekankan lagi. Karena fitrah dan sifat alami seorang ibu adalah berharap agar anak-anaknya selamat dunia dan akhirat. Pengertian kedua perlu digarisbawahi, yaitu berkhidmat kepada ibu. Berkhidmat kepada ibu begitu penting. Sehingga suatu ketika, diriwayatkan ada seorang anak yang menghadap Rasul agar diizinkan ikut berperang. Kemudian Rasul bertanya, “Bagaimana keadaan ibumu?” Dan rupanya anak ini belum cukup berkhidmat kepada ibunya. Rasul pun melarang anak tersebut untuk ikut dan memerintahkan untuk berkhidmat dengan menjaga dan mengasuh ibunya.
Mungkin, bila sang anak telah cukup berkhidmat terhadap ibunya, beliau akan mengizinkan anak itu untuk ikut berperang. Dalam sepenggal kisah tadi, Islam memperlihatkan betapa utamanya kewajiban anak untuk berkhidmat kepada ibunya ketimbang pergi ke medan perang.

Nilai luhur penghormatan terhadap ibu yang dulu merupakan bagian yang tidak terpisahkan, kini mulai mengalami pelunturan. Sering kita baca di surat kabar, hanya karena seorang ibu tidak memenuhi permintaan anaknya, anak tega menyakiti ibunya. Ini mengkhawatirkan. Berarti ada sesuatu yang salah. Bisa jadi di dalam rumah sang ibu sudah mendidik dengan baik. Tetapi pengaruh buruk lingkungan di luar merasuk ke dalam diri anak-anak. Sehingga anak-anak memiliki keberanian untuk melanggar batas moral.

Hal ini harus menjadi perhatian kita semua. Pengaruh lingkungan ini bisa dalam bentuk bacaan-bacaan yang tidak baik, film-film yg tidak baik, dan pergaulan yang kurang baik. Seseorang yang tidak mendapatkan ridho dari ibunya, apalagi sampai menyakiti, tidak akan selamat. Ketika di dunia, dia akan dirundung kesulitan. Ketika di akhirat, surga enggan menerima. Allah pun pernah menyatakan bahwa dosa yang paling disegerakan pembalasannya di dunia adalah dosa terhadap orang tua.

Nilai penghormatan kepada ibu perlu dipertahankan. Proses peniruan dan sparing partner tidak boleh mengikis nilai-nilai ini. Jika kita bercermin kepada masyarakat jepang, bangsa yang maju, posisi ibu dan wanita sangatlah spesial. Di Amerika Serikat, presiden-presidennya selalu menekankan pentingnya family values, terutama dalam memposisikan kembali ibu dan keluarga yang baik. Penghargaan kita kepada wanita adalah cerminan penghargaan kita kepada ibu, dan sebaliknya. Bila kita ingin menghargai posisi seorang ibu, kita perlu menghargai wanita. Karena siapapun wanita itu, pada akhirnya, ketika dia berkeluarga, dia akan menjadi seorang ibu.

Mudah-mudahan dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-72 tahun ini kita semakin menghormati dan memuliakan ibu. Agar selamat dunia dan akhirat serta berhak masuk surga tergantung bagaimana kita mengabdi kepada ibu. Bukankah “Surga terletak di bawah kaki ibu”. Semoga!!!



Tenaga Pendidik

JAM BUKA PERPUSTAKAAN
Perpustakaan :
Senin - Kamis
08.00-16.00
Sabtu
08.00-16.00