Pengangkatan K.H. Hendra Zainuddin Sebagai Mursyid Toriqoh Oleh K.H. Achmad Chalwani
Live Video



Kontak Person:
Ust. Halimi: 081278300119
Ust. Ahmadi Nejad: 082337881513
November 2018
S M T W T F S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Counter Visitor

Total Visitor todays: 16
Total Visitor yesterdays: 12
Total Visitor bulan ini: 185
Visitors Online: 1
Total Visitor: 121792

[psc_print_post_grid]

Oleh: H. HENDRA ZAINUDDIN. M.Pd.I
(Ketua Asosiasi Pesantren Se Indonesia NU Sumsel)

4 PERKARA PENGHUNI SURGA DAN  4 PERKARA PENGHUNI NERAKA

Allah menjadikan anak cucu Adam atas 8 perkara. Di antaranya, 4 perkara bagi penghuni syurga, yaitu wajah yang ramah, lisan yang fasih, hati yang bertakwa dan tangan yang ringan. Dan 4 perkara bagi penghuni neraka, yaitu wajah yang buram, lisan yang keji, hati yang keras, dan tangan yang bakhil. Insya Allah melalui bulan suci Ramadhan ini, kita termasuk dalam 4 golongan penghuni syurga.

BERJUMPA DENGAN RABBKU

Suatu hari, Hasan al-Bashri berujar; “Aku tahu rezekiku tak mungkin diambil orang lain, karena itu hatiku tenang. Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku bekerja dan beramal. Aku tahu, Allah selalu melihatku, karenanya, aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat. Aku tahu, kematian menantiku, maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku”.

KEKUATAN IKHLAS

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad sebagai berikut; “Tatkala Allah menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung, ternyata gunung itu diam. Para malaikatpun terheran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka pun bertanya? Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan Mu yang lebi kua dari gunung?. Allah menjawab; “Ada, yaitu besi”. Malaikat bertanya lagi; Ya Robbi adakah yang lebih kuat dari besi? Allah menjawab; Ada, yaitu api”. Malaikat kembali bertanya; “Ya Robbi, adakah yang lebih kuat dari api”. Allah menjawab; “Ada, yakni air”. Malaikat kembali bertanya; “Adakah yang lebih kuat dari air?”. Allah menjawab; “Ada, yaitu angin”. Akhirnya, malaikat penasaran kembali bertanya; “ Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan Mu yang lebih kuat dari semua itu?. Allah menjawab; “Ada, yaitu amal yang ikhlas”. Di bulan baik ini, marilah kita beramal shaleh dengan ikhlas.

MASUK SURGA KARENA LALAT

Suatu malam Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali bermimpi dimasukkan ke dalam surga dan beliau di tanya tahukah kamu kenapa engkau dimasukkan ke dalam surga ? Imam menjawab, mungkin karena karangan kitabku yang banyak dan diambil manfaat oleh manusia, suara tersebut menyela, bukan…ingatkah kamu suatu malam kamu sedang menulis kitab mu dan menjumpai lalat dalam mangkok tintamu, lalu engkau mengangkat lalat tersebut hingga ia bisa terbang lagi? Oleh sebab itulah Allah Yang Maha Pengasih mengasihimu dan memasukkan kamu ke dalam surganya.

KEDAMAIAN SEJATI

Konon, ada seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis yang berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Ketika sayembara telah usai, sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya. Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaganya bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang menjulang tenang disekitarnya. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian. Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Lukisan manakah yang memenangkan lomba? Sang Raja memilih lukisan nomor dua. “Wahai Raja, kenapa Raja memilih lukisan nomor dua?” Sang Raja menjawab, “Kedamaian bukan berarti kau harus berada di tempat yang sunyi dan tanpa kesibukan. Kedamaian adalah hati yang tenang, meskipun kau berada di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa.”

UNTUK SANG IBU

Pada suatu hari, ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah, bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya apa isi keranjangnya. “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji ke Ka’bah, tetapi kami tak dapat membayar ongkos perjalanannya. Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua untuk berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah, dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya bergelinang. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah. Sekarang, kami sedang thawaf di Ka’bah! Orang-orang mengatakan bahwa hak orangtua sangat besar. Pemuda itu bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini untuknya?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau takkan pernah dapat membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”

 KISAH LABA-LABA

Pernahkah kau memerhatikan laba-laba, dan mengamati betapa mengagumkan caranya menggunakan waktunya? Dengan kecepatan dan kewaspadaan ia menganyam sarangnya yang menakjubkan itu. Apabila lalat jatuh ke dalam jaringnya, laba-laba itu dengan cepat menyergapnya, mengisap darahnya, dan membiarkan bangkainya mengering untuk dimakannya. Sarang laba-laba itu melambangkan dunia. Lalat adalah rezeki yang telah diberikan Allah kepada makhluk-Nya. Seandainya pun seluruh dunia jatuh ke dalam tanganmu, kau bisa kehilangan semuanya itu dalam sekejap mata.

SUFI YANG KAYA RAYA

Suatu hari, Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili kedatangan seorang tamu, yang kebetulan murid kerabatnya sendiri yang teramat miskin. Tamu ini memang diutus gurunya untuk bersilaturahmi ke rumah Abu al-Hasan, tugasnya adalah mendengarkan dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Sulthanul Auliya Abu al-Hasan itu. Ketika di depan rumah Abu al-Hasan, tamu itu tercengang, karena melihat rumah Abu al-Hasan yang sangat mewah, kuda yang elok dan perhiasan yang gemerlap bagai istana raja. Si tamu berpikir, bagaimana mungkin seorang wali besar memiliki rumah dan kekayaan yang teramat mewah? Kalau guruku yang miskin itu, mungkin wajar saja. Syekh Abu al-Hasan pun keluar dan menemui tamunya. Tiba-tiba beliau berkata, “Katakan ya pada gurumu, kapan ia berhenti memikirkan dunia?” Si tamu lantas pulang dengan penuh tidak mengerti, bagaimana gurunya yang sufi miskin itu disebutnya masih memikirkan dunia. Sedangkan Abu al-Hasan yang kaya raya itu malah mengatakan sebaliknya, kapan gurunya berhenti memikirkan dunia. Sampai di rumah gurunya ia ditanya, “Apa pesan Abu al-Hasan?” “Tidak pesan apa-apa tuan guru.” “Tidak, pasti ia punya pesan. Jangan kamu tutup-tutupi, katakan saja sejujurnya.” “Aaanu…tuan guru…. Beliau hanya mengatakan, kapan tuan berhenti memikirkan dunia.” “Benar. Benar…Abu al-Hasan. Beliau benar. Walaupun kekayaannya melimpah seperti konglomerat, tak satu pun harta itu menempel di hatinya. Sedangkan saya yang miskin ini masih berharap kapan saya bias kaya.” Sang murid itu hanya manggut-manggut belaka, sambil meresapi kata-kata tadi.

SIKSA ORANG TIDAK SHALAT DAN BERZAKAT

Di masa Rasul SAW ada seorang pria meninggal dunia. Lalu Rasul hendak menshalat jenazah tersebut. Namun tiba-tiba kain kafan pembungkus mayat bergerak-gerak. Setelah diperiksa ternyata seekor ular tengah menghisap darah dan menggigit dagingnya. Lantas Abu Bakar ra hendak memukul ular tersebut, namun ular itu atas zin Allah SWT dapat berbicara fasih menyebut dua kalimah shahadat dan berujar “hai Abu Bakar, kenapa engkau hendak memukulku, padahal aku tiada berdosa dan aku hanya melaksanakan perintah Allah supaya menyiksa mayat ini hingga kiamat. Abu Bakar bertanya; Apakah kesalahan mayat ini?”. Ular menjawab; “Ia punya 3 kesalahan, yaitu; 1). Mengabaikan shalat; 2). Enggan membayar zakat; dan 3). Enggan mendengarkan nasihat ulama. Marilah, di bulan suci ini kita tingkatkan amalan shalat kita, membayar zakat, infaq dan shadaqah, serta mendatangi majelis taklim.

BERAKHIRNYA RAMADHAN

Pada malam Ramadhan berakhir segenap makhluk serta langit, bumi dan para malaikat menangis, merasa duka, akibat bencana yang menimpa umat Muhammad SAW. Pada sahabat bertanya; “Bencana apa yang Rasulullah?” Jawabnya: “Bencana kepergian bulan Ramadhan, sebab di dalam bulan Ramadhan segala do’a pasti dikabulkan, semua sedekah diterima, dan amal-amal baik dilipatgandakan pahalanya, dan penyiksaan sementara dihapuskan. Kita berdoa insya Allah kita dapat bertemu pada bulan Ramadhan selanjutnya.



Tenaga Pendidik

JAM BUKA PERPUSTAKAAN
Perpustakaan :
Senin - Kamis
08.00-16.00
Sabtu
08.00-16.00