Pengangkatan K.H. Hendra Zainuddin Sebagai Mursyid Toriqoh Oleh K.H. Achmad Chalwani
Live Video



Kontak Person:
Ust. Halimi: 081278300119
Ust. Ahmadi Nejad: 082337881513
April 2018
S M T W T F S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Counter Visitor

Total Visitor todays: 28
Total Visitor yesterdays: 50
Total Visitor bulan ini: 695
Visitors Online: 1
Total Visitor: 117475

hendra_brosur sumsel_ngaji_1 Penyerahan_sinarmas PG_Silat sosialisasi_2 Kapolda_sambutan_pimpinan Sfc_sambutan_Pimpinan Kunjungan_Arrahman_2 bela_negara_1 1519568240666 makesta IMG-20170928-WA0002

H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I
(Wakil Ketua PW NU Sumsel)
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Yaitu, orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan.”
(Q.S. Al-Ma’un: 1-7).

Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk berpuasa. ”Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah” (Muttafaq ‘alaih). Anjuran Rasulullah SAW tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak yatim.
Karena itu, di bulan Muharam ini, tepatnya pada tanggal 10 Muharam 1432 H merupakan hari raya anak yatim. Perayaan anak yatim ini disebabkan kecintaan dan perhatian yang sangat besar terhaap nasib anak-anak yatim. Tidak sedikit ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang secara khusus mengajakuntuk memperhatikan dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 220, Allah berfirman; “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim: Katakanlah; Mengurus secara patut pada mereka adalah baik dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka anggaplah mereka itu saudaramu”.
Bahkan secara lebih tegas dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap nasib orang-orang miskin dan anak yatim serta menelantarkan mereka sedangkan ia tergolong orang berkecukupan sebagai pendusta agama. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang enghardik anak yatim dan tidak menganjurkan member makan orang miskin” (Q.S. Al-Ma’un: 1-3).
Landasan filosofis religius ini menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian dan kepedulian yang begitu besar terhadap anak yatim, sehingga orang yang mau menangung mereka dijamin masuk surga. Sebaliknya, orang yang menghardik dan menganiaya mereka dianggap mendustakan agama. Dengan kata lain, Allah SWT demikian lugas mengaitkan agama dengan keberpihakan kepada kaum dhuafa. Seseorang dikategorikan telah berdusta atau berkhianat kepada agamanya manakala ia mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

Anak yatim dan orang miskin adalah dua kelompok yang paling rentan di masyarakat. Mereka digolongkan orang-orang yang lemah. Itulah mengapa Islam mewajibkan kita menolong mereka. Islam mendorong umatnya agar dalam beragama tidak selalu mementingkan aspek ibadah mahdhoh yang bersifat vertikal saja. Islam juga menganjurkan ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib anak-anak yatim dan orang-orang lemah. Jadi, surah Almaun seolah ingin menegaskan bahwa pendusta agama bukan hanya orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak mau shalat. Lebih dari itu, orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak punya kepekaan sosial dan tidak peduli pada lingkungan sekitar.
Orang yang lalai dalam shalat dapat diartikan secara fisik ia shalat, tetapi hati, jiwa, dan perilakunya tidak ikut shalat. Yaitu, yang shalatnya tidak berdampak pada perilaku sosialnya sehari-hari. Dalam shalat syarat dengan simbol-simbol ketuhanan dan kemanusiaan. Ketika shalat dibuka dengan takbiratul ihram, itu berarti kita menyapa Allah. Kemudian, diakhiri dengan salam, yang artinya menyapa manusia. Menengok ke kanan dan kiri sebagai tanda akhir shalat menunjukkan bahwa kita peduli pada kondisi lingkungan sekitar. Dengan demikian, salah satu pesan fundamental shalat adalah kepedulian pada orang lain.
Peduli Anak Yatim
Anak yatim adalah fenomena sosial yang nyata di depan mata kita. Sebagian dari mereka ada yang beruntung karena mendapatkan tempat yang layak sehingga dapat menikmati kasih sayang dan kebutuhan materi secara cukup. Sebagian yang lain dari mereka hidup dalam keadaan sulit, dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, meminta-minta di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terjerumus di lembah nista, dan menjadi gelandangan tanpa harapan masa depan. Adakah kita menyadarinya, bahwa fenomena ini adalah nyata? Adakah kita telah tergerak hati untuk meringankan beban mereka dengan kemampuan kita?
Kalau kita membuka perintah Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an akan mengatahui bahwa umat Islam telah diwajibkan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin. Bahwa pengakuan kita sebagai pemeluk Agama Allah Ta’ala yang kaffah dipertanyakan lagi apabila tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin (QS Al Maa’un : 1-3). Kalau ditelaah lebih mendalam, firman Allah ini memberikan sinyalemen bahwa cap pendusta bagi orang yang mengaku ber-Islam sedangkan perilakunya tidak sesuai dengan perintah Allah. Pantasnya mereka disebut pendusta, pembohong besar apabila mengaku sebagai umat Islam padahal dia tidak peduli dengan anak yatim. Betapa banyak anak-anak yatim yang terlantar di sekitarnya, ternyata ia hanya sibuk dengan urusan sendiri, sibuk dengan kepentingan golongannya, sibuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Rasanya kita tidak perlu tunjuk hidung orang lain. Yang diperlukan adalah tindakan nyata bahwa kita peduli dengan anak yatim, kita membantu orang miskin. Sudahkah itu kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Sekarang waktunya dan jangan tunda lagi!!!
Sementara itu, memelihara atau menyantuni anak yatim memiliki beberapa keutamaan, di antaranya;

  1. Menjauhkan kita dari sifat kikir. Kikir adalah salah satu penyakit yang mendatangi manusia agar terlepas dari sifat yang dermawan, solidaritas, dan suka memberikan pertolongan. Jika kita melakukan sedekah atau menyantuni anak yatim, meskipun dengan sedikit harta yang kita miliki, sifat kikir ini akan menghalanginya sehingga dia membatalkan niatnya untuk bersedekah atau berinfak.
  2. Menanamkan sifat istiqamah. Amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang sedikit, tetapi kontinu. Mengasuh seorang anak yatim dengan baik di rumah kita adalah salah satu sarana untuk menanamkan sifat istiqamah pada kita dan keluarga kita. Sifat istiqamah ini juga merupakan sikap yang terpenting setelah kita beriman kepada Allah. Jika kita sabar dan istiqamah dalam mengasuh atau menyantuni anak yatim dengan segala tingkah laku mereka, Allah menjanjikan keberuntungan besar bagi yang melaksanakannya, yakni surga.
  3. Menumbuhkan sifat murah hati. Murah hati merupakan tiang akal. Karenanya, orang yang memberikan kasih sayang akan dikasihi. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).
  4. Mendapat perlindungan di hari kiamat. Rasulullah SAW, bersabda; “Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt. tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (H.R. Thabrani)
  5. Masuk surga dengan mudah. Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (H.R. Tirmidzi)

Rasulullah Muhammad SAW menempatkan kedudukan orang-orang yang peduli dengan anak yatim dengan perumpamaan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Bukhari. “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)”. Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah”. Apa yang dimaksud Rasul dengan menunjuk dua jari yang berhimpitan ini? Dalam hadits lain, Rasul SAW bersabda; “Sebaik-baik rumah orang-orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang disantuni (diperlakukan dengan baik), dan sejelek-jelek rumah orang-orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan tidak baik.” (HR. Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adab Al-Mufrad).
Dari hadits di atas, Rasul SAW ingin mengajarkan kepada kita betapa tingginya dan dekatnya kedudukan antara Rasulullah SAW dan orang yang peduli anak yatim. Kalau Rasulullah pasti mendapat jaminan surga Allah Ta’ala, apakah mereka juga mendapatkan tempat itu? Yang pasti surga adalah tempat yang tinggi dan terbaik dan menjadi harapan kita semua, kalau kita yakin dengan kedatangan Rasul SAW, pasti membenarkan juga ucapan dan ajarannya. Bahwa Rasulullah menyebut pengasuh anak yatim kelak di surga sangat dekat, maka dapat pula disarikan bahwa pengasuh anak yatim mendapat jaminan surga dari Rasul. Bukankan kita semua juga ingin mendapatkan surga Allah? Ternyata tidak sulit, mari mulai saat ini kita peduli dengan anak yatim.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang peduli dan mencintai anak yatim. Bagi anak-anakku Selamat Hari Raya 10 Muharam 1432 H. Wassalam



Tenaga Pendidik
K.H. Saiful Wardi,S.Th.I K. Matlawi, S.Th.I K.Sarwin,S.Ud K.H. Muslih Bashori Rustam Effendi,S.Ud Dumyati,S.Pd.I Joni Saputra al-Hafidz Munir,S.Pd.I Dzulkifli Ikang Fauzi,S.Ud Pak Mursal,S.Pd.I Ust. Achmad Fauzi


JAM BUKA PERPUSTAKAAN
Perpustakaan :
Senin - Kamis
08.00-16.00
Sabtu
08.00-16.00