Pengangkatan K.H. Hendra Zainuddin Sebagai Mursyid Toriqoh Oleh K.H. Achmad Chalwani
Live Video



Kontak Person:
Ust. Halimi: 081278300119
Ust. Ahmadi Nejad: 082337881513
September 2018
S M T W T F S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Counter Visitor

Total Visitor todays: 9
Total Visitor yesterdays: 9
Total Visitor bulan ini: 370
Visitors Online: 1
Total Visitor: 120851

[psc_print_post_grid]

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”(QS Al-Baqarah [2]: 45)

Dalam pelaksanan shalat jamaah dan qiyâul lail, yang terpenting dan harus kita renungkan adalah bagaimana agar kita bisa melaksanakan setiap ibadah itu dengan khusyu’.

Khusyu’ adalah suatu sikap hati, bukan sekadar lisan maupun perbuatan. Karenanya, bagaimanapun hebatnya nasihat, peringatan ataupun pendidikan yang diberikan kepada seseorang tentang bagaimana beribadah dan shalat yang benar tidak akan ada artinya, kalau hati kita tidak khusyu’.

Karena itu, kunci utama dari setiap ibadah adalah kekhusyu’an hati. Khusyu’ harus dimulai dengan pengakuan yang muncul di dalam hati tentang apa yang akan kita lakukan itu. Ketika akan melaksanakan shalat jamaah misalnya, harus muncul sebuah pengakuan yang jujur di dalam hati kita bahwa kita butuh terhadap shalat jamaah itu. Kita mengharapkan pahala Allah yang berlipat ganda dari shalat jamaah itu. Ini pertama yang harus ditumbuhkan di dalam hati kita.

Kalau ini tidak ada, kita akan melakukan sesuatu karena terpaksa, karena tidak berangkat dari hobi, kesenangan, kecintaan kita apalagi kebutuhan. Ya, di sinilah saya ingin mengajak diri kita untuk kembali melihat posisi hati kita, sejauh mana hati kita ini sudah merasakan adanya kebutuhan terhadap doa, shalat dan pahala-pahala dari Allah swt. Kalau kita belum memilikinya, sulit sekali kita akan melakukan ibadah itu dengan khusyu’.

Ya, mungkin kita melaksanakan shalat Dhuhur atau Ashar dengan baik. Tapi, belum tentu hal itu terulang pada shalat Maghrib, Isya’ maupun Subuh. Atau, justru kita akan kembali lagi kepada tradisi-tradisi yang salah. Penyebabnya sederhana: kita tidak mengakui di dalam hati kita bahwa kita butuh. Karena itu, penting menumbuhkan keyakinan di dalam hati bahwa kita butuh ibadah yang benar. Kita sangat memerlukan pelaksanaan shalat jamaah yang benar. Inilah kriteria pertama dari khusyu’ itu.

Kriteria kedua orang khusyu’ adalah apabila dalam beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah dan kalau toh itu tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah melihat kita. Pemaknaan seperti ini lazim disebut dengan ihsan. Al-ihsan berarti “Anta’budallâha kaannaka tarâhu, faillam takun tarâhu fainnahu yarâka”.

Kalau dalam beribadah kita merasa tidak diawasi oleh Allah, maka kita akan beribadah sembarangan. Pasti ibadah kita tidak khusyu’. Tetapi, kalau kita merasa diawasi dan kita merasa bahwa Allah yang kita sembah, benar-benar memperhatikan kita, maka pasti kita akan melakukan yang terbaik di hadapan Allah. Kita tidak akan main-main dalam shalat. Kita tidak akan menunjukkan sifat-sifat malas.

Ada banyak contoh sikap malas yang kita tunjukkan dalam beribadah. Misalnya, ketika harus membaca amin, kita diam. Ketika dzikir, kita diam. Ketika azan dikumandangkan, kita diam. Penyebabnya, karena kita tidak butuh itu atau karena kita merasa tidak diperhatikan oleh Allah. Biasanya kita akan membaca amin, berdzikir, atau menjawab azan, apabila orang lain menegur kita. Ini jelas suatu sikap yang muncul akibat tidak adanya keyakinan atau tipisnya keyakinan bahwa kita diperhatikan oleh Allah swt.

Sedangkan kriteria ketiga adalah apabila kita sudah merasa butuh terhadap kasih sayang Allah. Lewat shalat yang kita lakukan, kita butuh pahala, taufiq, hidayah, dan maunah Allah. Kebutuhan terhadap kasih sayang Allah pada gilirannya menempatkan kita pada posisi selalu merasa diperhatikan oleh Allah. Buahnya adalah terpusatnya perhatian, pikiran hanya semata-mata kepada Allah. Ini yang kemudian kita kenal dengan istilah khusyu’ itu.

Orang dikatakan khusyu’ dalam shalat, apabila saat shalat itu pikiran dan perhatiannya benar-benar hanya terpusat kepada Allah. Inilah puncak dari khusyu’ itu. Tapi sekali lagi saya ingin ingatkan bahwa terpusatnya pikiran kita kepada Allah tidak mungkin terlaksana kalau kita tidak yakin dan tidak sadar bahwa kita diperhatikan Allah. Atau, kita tidak merasa butuh terhadap kasih sayang, taufiq, dan hidayah Allah.

Ketika kriteria orang khusyu’ dalam beribadah saling terkait. Ketiganya saling memiliki ikatan fungsional. Khusyu’ dalam beribadah selalu berangkat dari sebuah kebutuhan, kemudian muncul keyakinan bahwa diri diperhatikan oleh Allah dan yang terakhir terpusatnya konsentrasi terhadap apa yang sedang kita lakukan. Ketika kita shalat misalnya, pikiran kita tercurah pada apa yang kita baca, lalu kita wujudkan dalam amaliah shalat itu.

Dalam konteks khusyu’ beribadah, kita harus menghindari sifat orang munafik seperti disinyalir Al-Qur’an sebagai “Alladzîna idzâ qâmû ilas-shalâti, qâmû kusâla’” Yaitu, orang-orang yang apabila mau shalat, mereka itu malas, berlambat-lambat. Ketika dipanggil untuk shalat, tidak menjawab. Penyakit ini muncul karena tidak ada khusyu’. Biasanya orang tersebut datang ke masjid bukan niat untuk ibadah kepada Allah, tapi hanya sekadar untuk memenuhi disiplin.

Sifat munafik seperti di atas seringkali juga kita saksikan di tengah masyarakat. Ada sebagian orang rajin shalat dengan tujuan biar dipuji orang. Biar diperhatikan oleh calon mertua. Atau, biar mendapatkan imbalan material lebih dari seseorang. Sifat-sifat tidak terpuji tersebut bermula dari sikap malas.

Oleh karenanya, marilah kita berusaha untuk senantiasa khusyu’ dalam melaksanakan ibadah apa pun kepada Allah. Termasuk ketika kita melakukan ibadah ghairu mahdzoh, seperti belajar, mengajar, berbisnis, mengurusi organisasi dan sebagainya. Kalau sifat khusyu’ ini telah menjadi pondasi kita, sifat-sifat kita, insya Allah kita tidak akan merasa berat untuk melakukan apa pun yang berupa ibadah kepada Allah. Firman Allah, “Wainnahâ lakabîratun illâ ‘alal khâsyi’în” (Sesungguhnya shalat itu akan terasa berat, terasa menjadi beban, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’).

Walhasil, sikap khusyu’ akan membentengi diri kita dari berbagai penyakit, baik penyakit individu ataupun penyakit sosial yang berkembang di masyarakat kita. Wallâhu ‘a’lam bi ash-shawâb.

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

Sunber



Tenaga Pendidik

JAM BUKA PERPUSTAKAAN
Perpustakaan :
Senin - Kamis
08.00-16.00
Sabtu
08.00-16.00